Selasa, 29 Mei 2012

Ilmuwan Ungkap Rahasia Regenerasi Sirip Ikan Zebra

| | 0 komentar

detail berita

LONDON - Ilmuwan akhirnya berhasil mengungkapkan rahasia regenerasi dari anggota tubuh hewan yang rusak, setelah melakukan penelitian selama tiga dekade. Semua itu dipengaruhi asam retinoat yang sama dengan kandungan vitamin A.

Tim peneliti dari University of Konstanz di Jerman Selatan mengklaim telah berhasil memecahkan teka-teki dalam mempelajari regenerasi anggota tubuh dari ikan zebra. Semua itu dipengaruhi oleh asam retinoat yang membuat ikan air tawar tropis tersebut bisa memproduksi kembali siripnya, bahkan juga menguatkan otot jantung. Peneliti mengatakan asam retinoat merupakan elemen penting dari regenarisi ini.

"Ini merupakan keberhasilan besar bagi kami. Sampai sekarang, belum ada seorang pun yang bisa melihat dengan jelas apa fungsi sebenarnya dari asam ini," ungkap Gerrit Begemann, peneliti utama Konstanz, seperti dikutip Daily Mail, Selasa (29/11/2011).

Sebelum proses regenarasi berlangsung, sirip ikan zebra yang luka ditutup dengan beberapa lapisan jaringan. Sel-sel di bawah permukaan kulit mengalami pembentukan sel baru yang disebut protoplasma.

Menurut peneliti, pembentukan protoplasma pada ikan zebra memperlihatkan bahwa hewan tersebut mampu menghasilkan persediaan sel sendiri yang dapat digunakan untuk memproduksi sirip baru. Asam retinoat yang diproduksi oleh hewan hampir sama dengan kandungan vitamin A yang sering dikonsumsi manusia.

Beberapa penelitian sebelumnya ada yang membuktikan, wanita hamil yang tidak meminum vitamin A berakibat pada keterbelakangan mental janinnya kelak. Ini jelas sebuah regenerasi dengan skema yang hampir mirip.

"Saya berharap bisa menggunakan kandungan asam retinoat untuk beberapa aplikasi media. Masalahnya manusa tidak bisa memproduksi jaringan. Pada akhirnya ini menjawab apa rasa ingin tahu kami menganai mengapa suatu hal terjadi," simpulnya. (dgs)
Read more...

Sinyal WiFi Bisa Jadi Penyebab Kemandulan

| | 0 komentar

detail berita

BUENOS AIRES - Penelitian ilmiah baru-baru ini berspekulasi bahwa laptop yang terhubung secara nirkabel ke internet, dan diletakkan di paha dekat dengan testis dapat menurunkan tingkat kesuburan pria.

Avendano, Mata, Sanchez Sarmiento, dan Doncel, adalah empat ilmuwan Argentina yang melakukan penelitian tersebut dengan menempatkan sperma sehat di bawah laptop yang terkoneksi pada WiFi.

Setelah empat jam, sperma yang terpapar sinyal Wi-Fi tersebut menunjukkan penurunan signifikan dalam kemampuan sperma bergerak maju, juga peningkatan fragmentasi DNA. Kondisi tersebut sangat berbeda bila dibandingkan dengan sperma sehat yang disimpan pada waktu dan suhu sama, namun jauh dari komputer.

Dilansir melalui InternationalBusinessTimes, Rabu (30/11/2011), keadaan tersebut mengindikasikan sperma terpapar WiFi, akan mengalami [enurunan kemampuan gerak menuju sebuah sel telur, dan jika mampu membuahi pun, sperma tersebut hanya memiliki sedikit DNA pria.

Sementara itu, sebuah tes terpisah menunjukkan bahwa menempatkan sperma di dekat komputer (tanpa WiFi) tidak menyebabkan kerusakan yang sama. (dgs)
Read more...

Kura-kura Saling Berkomunikasi Sebelum Menetas

| | 0 komentar

detail berita

CANBERRA - Para ilmuwan percaya bahwa bayi kura-kura dapat berkomunikasi satu sama lain sebelum mereka menetas dan dapat mengatur untuk muncul dari telur mereka pada waktu yang sama.

Sebuah studi dari Australia Murray, kura-kura berleher pendek, menemukan embrio mencocokkan penetasan mereka untuk mencegah kura-kura kecil muncul sendirian dan di serang predator seperti rubah.

Hal ini diyakini pada kura-kura yang belum menetas, terletak tertutup dalam sarang mungkin bisa merasakan getaran jantung masing-masing atau mendeteksi gas yang dipancarkan dari napas.

"Saya cukup yakin mereka tidak duduk bersama mengobrol satu sama lain, tapi tidak ada yang benar-benar tahu," ujar Dr Ricky Spencer, salah satu penulis studi terbaru, seperti dikutip Telegraph, Jumat (2/11/11).

Para peneliti dari University of Western Study mengatakan posisi embrio dibawah sarang, dimana suhu lebih rendah sehingga memiliki mekanisme 'catch-up' yang memungkinkan mereka mengatasai masa inkubasi mereka yang lama. Namun, sifat yang tepat dari mekanisme tetap tidak diketahuai.

"Mereka  mungkin mengisyaratkannya di detak jantung," kata Spencer pada ABC Radio.

Dia melanjutkan, "Mereka semua menyentuh satu sama lain dalam sarang, sehingga mungkin ada getaran di sana. Sebuah lingkungan sarang dengan banyak rongga tertutup, di mana pertukaran gas mungkin menjadi isyarat ketika mereka bernafas."

Para peneliti mempelajari kura-kura dengan membagi kopling telur menjadi dua dan inkubasi mereka pada suhu yang berbeda. Mereka kemudian menyatukan telur setelah seminggu dan menganalisis tingat jantung embrio dan tingkat metabolisme.

Selama sepertiga terakhir dari periode inkubasi, embrio yang lebih dingin mempercepat detak jantung dan metabolisme serta menetas dalam beberapa hari dari yang lebih hangat.

"Mereka meningkatkan perkembangan pada dasarnya secara independen terhadap suhu dan memungkinkan mereka untuk menetas lebih awal." tandas Spencer. (dgs)
Read more...

Peneliti Jepang Ciptakan Kepiting Tembus Pandang

| | 0 komentar

detail berita

KYOTO - Sekelompok peneliti dari Kyoto University, Jepang, berhasil mengubah seekor kepiting normal jadi kepiting tembus pandang. Pengubahan tersebut dilakukan melalui proses kimia, dengan memanfaatkan sifat khas chitin, yaitu salah satu bahan pembentuk cangkang kepiting.

Tujuan penelitian ini adalah menemukan bahan baru untuk membuat layar fleksibel, yang bisa digunakan pada perangkat elektronik atau solar cell. Setelah membuat cangkang kepiting tersebut tembus pandang, para peneliti menerapkan teknik serupa pada bahan yang terbuat dari hancuran chitin dan akrilik yagn digepengkan, untuk membuat sejenis kertas transparan.

Keunggulan chitin adalah bahan tersebut tidak mengembang saat dipanaskan. Sifat ini menjadikannya bahan yang sangat berguna ketika membuar layar jenis datar atau fleksibel, untuk digunakan televisi, komputer, atau pada solar cell yang dicetak sesuai permukaan tanah.

Dilansir melalui Physorg, Jumat (2/12/2011), bahan serupa kertas yang dibuat para peneliti tersebut memiliki ketahanan panas 10 kali lipat dari bahan fiber glass tradisional, yang juga memiliki kemampuan transmisi cahaya lebih tinggi.

Akan sangat menguntungkan jika penemuan bahan ini ternyata merupakan terobosan baru bagi sains elektronik, apalagi ketersediaan bahan ini di alam cukup melimpah. Bahan ini bukan hanya memonopoli kepiting, tapi ada pada hampir semua crustace, juga serangga dan arachnida pada umumnya. Bahan ini bahkan dapat ditemukan pada dinding sel jamur. (dgs)
Read more...

Kodok Bisa Prediksi Gempa Bumi

| | 0 komentar

detail berita

CALIFORNIA - Sebuah studi menyatakan, hewan dapat digunakan untuk memprediksi gempa bumi, karena spesies tertentu bisa merasakan perubahan kimia dalam air tanah sebelum aktivitas seismic.

Para ahli mulai menyelidiki teori tersebut setelah sekoloni kodok diamati meninggalkan kolam di L'Aquila, Italia pada 2009, beberapa hari sebelum terjadi bencana gempa bumi.

Hewan yang hidup di tanah atau sekitarnya, seperti kodok sangat sensitif terhadap perubahan dan kemungkinan melihat tanda-tanda akan terjadi gempa.

Para peneliti, dipimpin oleh Friedemann Freund dari NASA dan Rachel Grant dari Open University, UK berharap penemuan mereka akan menginsprasi ahli biologi dan geologi untuk bekerja sama dalam memperbaii prediksi gempa.

Meskipun ini bukan contoh pertama dari kegiatan hewan yang tidak biasa diamati sebelum gempa, kasus kodok L'Aquilla tersebut berbeda sehingga mereka dipelajari secara rinci. Grant, seorang ahli biologi memantau koloni kodok tersebut sebagai bagian dari proyek PhD-nya, beberapa hari sebelum bencana gempa di Italia.

"Sangat dramatis, 96 kodok pergi dan hampir tidak ada selama 3 hari. Setelah kejadian itu saya dihubungi NASA," ujarnya kepada BBC, seperti dilansir Telegraph, Jumat (2/12/11).

Para ilmuwan di badan antariksa AS telah mempelajari perubahan-perubahan kimia yang terjadi ketika batu diletakkan di bawah tekanan ekstrim dan mempertanyakan apakah mereka terkait dengan keberangkatan kodok.

Tes di laboratorium sejak awal menyatakan bahwa perubahan dalam kerak bumi, dapat secara langsung mempengaruhi kimia dalam kolam tempat kodok itu hidup dan berkembang biak.

Rantai kimia dari peristiwa dapat mempengaruhi bahan organik yang terlarut dalam air kolam, sehingga mengubah bahan organik menjadi zat berbahaya yang beracun untuk hewan air.

Grand mengatakan, "Ketika Anda memikirkan banyak hal yang terjadi pada batu-batu, akan menjadi aneh kalau hewan tidak terpengaruh."

"Setelah kita memahami bagaimana semua sinyal ini terhubung, lalu kita melihat 4 dari 5 sinyal menunjukkan arah yang sama maka kita bisa mengatakan 'oke', sesuatu akan terjadi," jelas Grant.

Temuan tim ini diterbitkan di International Journal of Environtmental Research and Public Helath. (dgs)
Read more...

Ozon Bisa Digunakan Memprediksi Gempa Bumi

| | 0 komentar

detail berita

VIRGINIA - Para peneliti di seluruh dunia sedang mencari cara yang dapat diandalkan untuk memprediksi gempa bumi. Salah satu cara baru yang sedang diteliti akhir-akhir ini adalah prediksi gempa lewat ozon.

Ozon adalah gas alam, sebuah produk sampingan dari pelepasan muatan listrik ke udara, seperti petir, atau batu yang pecah karena tekanan. Sementara itu, sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Physics Letters, menunjukkan bahwa gas ozon yang dipancarkan dari rekahan batu ternyata dapat digunakan sebagai indikator perkiraan gempa bumi.

Para ilmuwan di laboratorium dari Raul A. Baragiola, seorang profesor fisika teknik di University of Virginia School of Engineering and Applied Science, melakukan eksperimen untuk mengukur ozon yang dihasilkan dengan menghancurkan atau mengebor berbagai jenis batuan beku dan metamorf, termasuk granit, basal, gneiss, riolit dan kuarsa. Batuan yang berbeda menghasilkan ozon dalam jumlah yang berbeda, diantaranya, batuan riolit menghasilkan emisi ozon terkuat.

Dilansir melalui UVatoday, Selasa (6/12/2011), beberapa waktu sebelum gempa bumi, tekanan mulai terkumpul dalam retakan-retakan di bawah tanah. Tekanan tersebut membuat retak batuan, dan diasumsikan akan menghasilkan ozon yang dapat dideteksi.

Untuk membedakan apakah ozon itu berasal dari batu atau dari reaksi di atmosfer, para peneliti melakukan eksperimen pada oksigen murni, nitrogen, helium dan karbon dioksida.

Mereka menemukan hanya ozon yang dihasilkan oleh rekahan batulah yang mengandung atom oksigen, seperti udara, karbon dan molekul oksigen murni. Ini menunjukkan bahwa rekahan batu dapat dideteksi dengan mengukur ozon.

"Jika penelitian di masa depan dapat menunjukkan korelasi positif antara tingkat ozon tanah, di daerah retakan tanah dan gempa bumi, sebuah sistem detektor ozon yang saling berhubungan bisa mengawasi pola anomali, yang terjadi saat retakan batu melepaskan ozon dari bawah tanah dan retakan permukaan," katanya.

Dia menambahkan bahwa deteksi dari peningkatan ozon tanah juga mungkin berguna dalam mengantisipasi bencana di penggalian terowongan, tanah longsor dan tambang bawah tanah. (dgs)
Read more...

Ilmuwan Temukan Bukti Air di Masa Lalu

| | 0 komentar

detail berita

SAN FRANCISCO - Seorang penjelajah NASA menemukan tanda-tanda air yang berasal dari masa lalu di Mars. Ini setelah mereka menemukan bukti terkuat dari gypsum, mineral yang menyimpan air, terlihat menonjol dari sebuah batu kuno.

Penjelajah Rover dan kembarannya, Spirit, tiba di sisi berlawanan dari Mars pada Januari 2004. Selama bertahun-tahun, para penemu, dibantu oleh pesawat ruang angkasa yang mengorbit beberapa telah kembali tubuh meyakinkan bukti bahwa Mars tidak selalu dingin dan kering seperti saat ini.

Bukti yang paling meyakinkan ini diungkapkan pada konferensi American Geophysical Union di San Francisco, adalah batuan tipis di dalamnya dicampur gipsum dan menonjol dari batu kuno di sepanjang tepi kawah yang mempunyai luas 154km yang disebut Endeavour.

Gypsum, umumnya dikenal sebagai plester from Paris, biasanya terbentuk dari air yang mengalir melalui batuan. Demikian yang dilansir melalui Strait Times, Selasa (13/12/2011). (dgs)
Read more...

Selasa, 29 Mei 2012

Ilmuwan Ungkap Rahasia Regenerasi Sirip Ikan Zebra

Diposting oleh Irmala Sita di 13.31 0 komentar
detail berita

LONDON - Ilmuwan akhirnya berhasil mengungkapkan rahasia regenerasi dari anggota tubuh hewan yang rusak, setelah melakukan penelitian selama tiga dekade. Semua itu dipengaruhi asam retinoat yang sama dengan kandungan vitamin A.

Tim peneliti dari University of Konstanz di Jerman Selatan mengklaim telah berhasil memecahkan teka-teki dalam mempelajari regenerasi anggota tubuh dari ikan zebra. Semua itu dipengaruhi oleh asam retinoat yang membuat ikan air tawar tropis tersebut bisa memproduksi kembali siripnya, bahkan juga menguatkan otot jantung. Peneliti mengatakan asam retinoat merupakan elemen penting dari regenarisi ini.

"Ini merupakan keberhasilan besar bagi kami. Sampai sekarang, belum ada seorang pun yang bisa melihat dengan jelas apa fungsi sebenarnya dari asam ini," ungkap Gerrit Begemann, peneliti utama Konstanz, seperti dikutip Daily Mail, Selasa (29/11/2011).

Sebelum proses regenarasi berlangsung, sirip ikan zebra yang luka ditutup dengan beberapa lapisan jaringan. Sel-sel di bawah permukaan kulit mengalami pembentukan sel baru yang disebut protoplasma.

Menurut peneliti, pembentukan protoplasma pada ikan zebra memperlihatkan bahwa hewan tersebut mampu menghasilkan persediaan sel sendiri yang dapat digunakan untuk memproduksi sirip baru. Asam retinoat yang diproduksi oleh hewan hampir sama dengan kandungan vitamin A yang sering dikonsumsi manusia.

Beberapa penelitian sebelumnya ada yang membuktikan, wanita hamil yang tidak meminum vitamin A berakibat pada keterbelakangan mental janinnya kelak. Ini jelas sebuah regenerasi dengan skema yang hampir mirip.

"Saya berharap bisa menggunakan kandungan asam retinoat untuk beberapa aplikasi media. Masalahnya manusa tidak bisa memproduksi jaringan. Pada akhirnya ini menjawab apa rasa ingin tahu kami menganai mengapa suatu hal terjadi," simpulnya. (dgs)

Sinyal WiFi Bisa Jadi Penyebab Kemandulan

Diposting oleh Irmala Sita di 13.30 0 komentar
detail berita

BUENOS AIRES - Penelitian ilmiah baru-baru ini berspekulasi bahwa laptop yang terhubung secara nirkabel ke internet, dan diletakkan di paha dekat dengan testis dapat menurunkan tingkat kesuburan pria.

Avendano, Mata, Sanchez Sarmiento, dan Doncel, adalah empat ilmuwan Argentina yang melakukan penelitian tersebut dengan menempatkan sperma sehat di bawah laptop yang terkoneksi pada WiFi.

Setelah empat jam, sperma yang terpapar sinyal Wi-Fi tersebut menunjukkan penurunan signifikan dalam kemampuan sperma bergerak maju, juga peningkatan fragmentasi DNA. Kondisi tersebut sangat berbeda bila dibandingkan dengan sperma sehat yang disimpan pada waktu dan suhu sama, namun jauh dari komputer.

Dilansir melalui InternationalBusinessTimes, Rabu (30/11/2011), keadaan tersebut mengindikasikan sperma terpapar WiFi, akan mengalami [enurunan kemampuan gerak menuju sebuah sel telur, dan jika mampu membuahi pun, sperma tersebut hanya memiliki sedikit DNA pria.

Sementara itu, sebuah tes terpisah menunjukkan bahwa menempatkan sperma di dekat komputer (tanpa WiFi) tidak menyebabkan kerusakan yang sama. (dgs)

Kura-kura Saling Berkomunikasi Sebelum Menetas

Diposting oleh Irmala Sita di 13.30 0 komentar
detail berita

CANBERRA - Para ilmuwan percaya bahwa bayi kura-kura dapat berkomunikasi satu sama lain sebelum mereka menetas dan dapat mengatur untuk muncul dari telur mereka pada waktu yang sama.

Sebuah studi dari Australia Murray, kura-kura berleher pendek, menemukan embrio mencocokkan penetasan mereka untuk mencegah kura-kura kecil muncul sendirian dan di serang predator seperti rubah.

Hal ini diyakini pada kura-kura yang belum menetas, terletak tertutup dalam sarang mungkin bisa merasakan getaran jantung masing-masing atau mendeteksi gas yang dipancarkan dari napas.

"Saya cukup yakin mereka tidak duduk bersama mengobrol satu sama lain, tapi tidak ada yang benar-benar tahu," ujar Dr Ricky Spencer, salah satu penulis studi terbaru, seperti dikutip Telegraph, Jumat (2/11/11).

Para peneliti dari University of Western Study mengatakan posisi embrio dibawah sarang, dimana suhu lebih rendah sehingga memiliki mekanisme 'catch-up' yang memungkinkan mereka mengatasai masa inkubasi mereka yang lama. Namun, sifat yang tepat dari mekanisme tetap tidak diketahuai.

"Mereka  mungkin mengisyaratkannya di detak jantung," kata Spencer pada ABC Radio.

Dia melanjutkan, "Mereka semua menyentuh satu sama lain dalam sarang, sehingga mungkin ada getaran di sana. Sebuah lingkungan sarang dengan banyak rongga tertutup, di mana pertukaran gas mungkin menjadi isyarat ketika mereka bernafas."

Para peneliti mempelajari kura-kura dengan membagi kopling telur menjadi dua dan inkubasi mereka pada suhu yang berbeda. Mereka kemudian menyatukan telur setelah seminggu dan menganalisis tingat jantung embrio dan tingkat metabolisme.

Selama sepertiga terakhir dari periode inkubasi, embrio yang lebih dingin mempercepat detak jantung dan metabolisme serta menetas dalam beberapa hari dari yang lebih hangat.

"Mereka meningkatkan perkembangan pada dasarnya secara independen terhadap suhu dan memungkinkan mereka untuk menetas lebih awal." tandas Spencer. (dgs)

Peneliti Jepang Ciptakan Kepiting Tembus Pandang

Diposting oleh Irmala Sita di 13.29 0 komentar
detail berita

KYOTO - Sekelompok peneliti dari Kyoto University, Jepang, berhasil mengubah seekor kepiting normal jadi kepiting tembus pandang. Pengubahan tersebut dilakukan melalui proses kimia, dengan memanfaatkan sifat khas chitin, yaitu salah satu bahan pembentuk cangkang kepiting.

Tujuan penelitian ini adalah menemukan bahan baru untuk membuat layar fleksibel, yang bisa digunakan pada perangkat elektronik atau solar cell. Setelah membuat cangkang kepiting tersebut tembus pandang, para peneliti menerapkan teknik serupa pada bahan yang terbuat dari hancuran chitin dan akrilik yagn digepengkan, untuk membuat sejenis kertas transparan.

Keunggulan chitin adalah bahan tersebut tidak mengembang saat dipanaskan. Sifat ini menjadikannya bahan yang sangat berguna ketika membuar layar jenis datar atau fleksibel, untuk digunakan televisi, komputer, atau pada solar cell yang dicetak sesuai permukaan tanah.

Dilansir melalui Physorg, Jumat (2/12/2011), bahan serupa kertas yang dibuat para peneliti tersebut memiliki ketahanan panas 10 kali lipat dari bahan fiber glass tradisional, yang juga memiliki kemampuan transmisi cahaya lebih tinggi.

Akan sangat menguntungkan jika penemuan bahan ini ternyata merupakan terobosan baru bagi sains elektronik, apalagi ketersediaan bahan ini di alam cukup melimpah. Bahan ini bukan hanya memonopoli kepiting, tapi ada pada hampir semua crustace, juga serangga dan arachnida pada umumnya. Bahan ini bahkan dapat ditemukan pada dinding sel jamur. (dgs)

Kodok Bisa Prediksi Gempa Bumi

Diposting oleh Irmala Sita di 13.28 0 komentar
detail berita

CALIFORNIA - Sebuah studi menyatakan, hewan dapat digunakan untuk memprediksi gempa bumi, karena spesies tertentu bisa merasakan perubahan kimia dalam air tanah sebelum aktivitas seismic.

Para ahli mulai menyelidiki teori tersebut setelah sekoloni kodok diamati meninggalkan kolam di L'Aquila, Italia pada 2009, beberapa hari sebelum terjadi bencana gempa bumi.

Hewan yang hidup di tanah atau sekitarnya, seperti kodok sangat sensitif terhadap perubahan dan kemungkinan melihat tanda-tanda akan terjadi gempa.

Para peneliti, dipimpin oleh Friedemann Freund dari NASA dan Rachel Grant dari Open University, UK berharap penemuan mereka akan menginsprasi ahli biologi dan geologi untuk bekerja sama dalam memperbaii prediksi gempa.

Meskipun ini bukan contoh pertama dari kegiatan hewan yang tidak biasa diamati sebelum gempa, kasus kodok L'Aquilla tersebut berbeda sehingga mereka dipelajari secara rinci. Grant, seorang ahli biologi memantau koloni kodok tersebut sebagai bagian dari proyek PhD-nya, beberapa hari sebelum bencana gempa di Italia.

"Sangat dramatis, 96 kodok pergi dan hampir tidak ada selama 3 hari. Setelah kejadian itu saya dihubungi NASA," ujarnya kepada BBC, seperti dilansir Telegraph, Jumat (2/12/11).

Para ilmuwan di badan antariksa AS telah mempelajari perubahan-perubahan kimia yang terjadi ketika batu diletakkan di bawah tekanan ekstrim dan mempertanyakan apakah mereka terkait dengan keberangkatan kodok.

Tes di laboratorium sejak awal menyatakan bahwa perubahan dalam kerak bumi, dapat secara langsung mempengaruhi kimia dalam kolam tempat kodok itu hidup dan berkembang biak.

Rantai kimia dari peristiwa dapat mempengaruhi bahan organik yang terlarut dalam air kolam, sehingga mengubah bahan organik menjadi zat berbahaya yang beracun untuk hewan air.

Grand mengatakan, "Ketika Anda memikirkan banyak hal yang terjadi pada batu-batu, akan menjadi aneh kalau hewan tidak terpengaruh."

"Setelah kita memahami bagaimana semua sinyal ini terhubung, lalu kita melihat 4 dari 5 sinyal menunjukkan arah yang sama maka kita bisa mengatakan 'oke', sesuatu akan terjadi," jelas Grant.

Temuan tim ini diterbitkan di International Journal of Environtmental Research and Public Helath. (dgs)

Ozon Bisa Digunakan Memprediksi Gempa Bumi

Diposting oleh Irmala Sita di 13.27 0 komentar
detail berita

VIRGINIA - Para peneliti di seluruh dunia sedang mencari cara yang dapat diandalkan untuk memprediksi gempa bumi. Salah satu cara baru yang sedang diteliti akhir-akhir ini adalah prediksi gempa lewat ozon.

Ozon adalah gas alam, sebuah produk sampingan dari pelepasan muatan listrik ke udara, seperti petir, atau batu yang pecah karena tekanan. Sementara itu, sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Physics Letters, menunjukkan bahwa gas ozon yang dipancarkan dari rekahan batu ternyata dapat digunakan sebagai indikator perkiraan gempa bumi.

Para ilmuwan di laboratorium dari Raul A. Baragiola, seorang profesor fisika teknik di University of Virginia School of Engineering and Applied Science, melakukan eksperimen untuk mengukur ozon yang dihasilkan dengan menghancurkan atau mengebor berbagai jenis batuan beku dan metamorf, termasuk granit, basal, gneiss, riolit dan kuarsa. Batuan yang berbeda menghasilkan ozon dalam jumlah yang berbeda, diantaranya, batuan riolit menghasilkan emisi ozon terkuat.

Dilansir melalui UVatoday, Selasa (6/12/2011), beberapa waktu sebelum gempa bumi, tekanan mulai terkumpul dalam retakan-retakan di bawah tanah. Tekanan tersebut membuat retak batuan, dan diasumsikan akan menghasilkan ozon yang dapat dideteksi.

Untuk membedakan apakah ozon itu berasal dari batu atau dari reaksi di atmosfer, para peneliti melakukan eksperimen pada oksigen murni, nitrogen, helium dan karbon dioksida.

Mereka menemukan hanya ozon yang dihasilkan oleh rekahan batulah yang mengandung atom oksigen, seperti udara, karbon dan molekul oksigen murni. Ini menunjukkan bahwa rekahan batu dapat dideteksi dengan mengukur ozon.

"Jika penelitian di masa depan dapat menunjukkan korelasi positif antara tingkat ozon tanah, di daerah retakan tanah dan gempa bumi, sebuah sistem detektor ozon yang saling berhubungan bisa mengawasi pola anomali, yang terjadi saat retakan batu melepaskan ozon dari bawah tanah dan retakan permukaan," katanya.

Dia menambahkan bahwa deteksi dari peningkatan ozon tanah juga mungkin berguna dalam mengantisipasi bencana di penggalian terowongan, tanah longsor dan tambang bawah tanah. (dgs)

Ilmuwan Temukan Bukti Air di Masa Lalu

Diposting oleh Irmala Sita di 13.27 0 komentar
detail berita

SAN FRANCISCO - Seorang penjelajah NASA menemukan tanda-tanda air yang berasal dari masa lalu di Mars. Ini setelah mereka menemukan bukti terkuat dari gypsum, mineral yang menyimpan air, terlihat menonjol dari sebuah batu kuno.

Penjelajah Rover dan kembarannya, Spirit, tiba di sisi berlawanan dari Mars pada Januari 2004. Selama bertahun-tahun, para penemu, dibantu oleh pesawat ruang angkasa yang mengorbit beberapa telah kembali tubuh meyakinkan bukti bahwa Mars tidak selalu dingin dan kering seperti saat ini.

Bukti yang paling meyakinkan ini diungkapkan pada konferensi American Geophysical Union di San Francisco, adalah batuan tipis di dalamnya dicampur gipsum dan menonjol dari batu kuno di sepanjang tepi kawah yang mempunyai luas 154km yang disebut Endeavour.

Gypsum, umumnya dikenal sebagai plester from Paris, biasanya terbentuk dari air yang mengalir melalui batuan. Demikian yang dilansir melalui Strait Times, Selasa (13/12/2011). (dgs)

Arsip Blog

About Me

Followers

Labels

Chat

Cbox
irmala
hosted by Cbox.ws

Banyak Pengunjung

My Playlist

from where you came?

Pages

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.
 
 

SHARING WITH ME | Diseñado por: Compartidísimo
Con imágenes de: Scrappingmar©

 
top